Mawar Sejatiku

mawarsejatiku.blogspot.com

Mawar Sejatiku

mawarsejatiku.blogspot.com

Mawar Sejatiku

mawarsejatiku.blogspot.com

Mawar Sejatiku

mawarsejatiku.blogspot.com

Mawar Sejatiku

mawarsejatiku.blogspot.com

Selasa, 28 Mei 2013

marketing


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam sebuah bisnis pasti mengenal kata pemasaran atau  marketing. Pokok yang paling penting dalam bisnis bukanlah kantor, bukan produk atau jasa  melainkan penawaran. Bisnis belum dikatakan ada, jika belum melakukan penawaran.Dan penawaran itu sendiri ada dalam kegiatan marketing.
Nah, dengan sedikit gambaran di  atas kami pemakalah akan membahas tentang pemasaran atau marketing. Kami akan membahasnya masalah pemasaran dalam islam, atau bisa lebih jelasnya pemasaran yang syari’ah. Untuk lebih jelas lagi mari kita sama-sama belajar pemasaran dalam islam pada makalah ini.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa definisi pemasaran atau marketing dalam islam?
2.      Bagaimana perkembangan pemasaran konvensional menuju pemasaran yang islami atau yang syari’ah?
3.      Bagaimana Marketing Mix (5P) dalam pandangan islam?
4.      Bagaimana Stategi Marketing Syari’ah








BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Pemasaran
Definisi pemasaran secara sosial menunjukan peran yang dimainkan oleh pemasaran masyarakat.Seorang pemasar mengatakan bahwa peran pemasaran adalah menghasilkan standar hidup ayng lebih tinggi.Sedangkan definisi pemasaran secara manajerial, pemasaran sering digambarkan sebagai seni menjual produk.Berikut tadi adala definisi menurut The American marketing Association.
Menurut Herman Kertajaya pemasaran syari’ah merupakan strategi bisnis, yang harus memayungi seluruh aktifitas dalam sebuah perusahaan, meliputi seluruh proses, menciptakan, menawarkan, pertukaran nilai, dari seorang produsen, atau satu perusahaan, atau perorangan, yang sesuai dengan ajaran islam.[1] Untuk lebih jelasnya ini ada penjelasan mengenai karakteristik pemasaran dalam islam :
1.      Rabbaniyah, yang artinya ketuhanan. Semua tindak tanduk yang kita lakukan semua diawasi oleh Allah dan kita juga harus menyakini kebesaran Allah yang maha mengetahui. Oleh sebab itu kita semua harus bersikap sebaik mungkin, misalnya tidak berbuat licik kepada sesamanya, tidak mencuri hak milik orang lain atau bisa dibilang memakan harta orang lain. Apabila kita sudah menyakini ketuhanan Allah dan menjadikannya sebagai pegangan hidup, insyaAllah dapat mencegah kita untuk berbuat perbuatan yang tercela dalam dunia bisnis.
2.       Akhlaqiah, yang artinya etika yang baik. Kita sebagai umat Rasulullah maka kita wajib meneladani sifat-sifat beliau, salah satunya berperilaku yang baik. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan etika yang mulia”.[2] Sebagaimana contoh dalam dunia bisnis, tidak menjadi penipu yang suka mengoplos barang suka menimbum barang, atau mengambil keuntungan yang berlebihan yang bisa jadi merugikan salah satu pihak. Para maketer syari’ah selalu memelihara setiap tutur kata, perilaku dalam berhubungan bisnis dengan siapa saja, misalkan pada konsumen, distributor, atau orang-rang yang terlibat di dalamnya bisa disebut karyawan.
3.      Al-Waqiiyyah, kata lainnya realistis yang artinya sesuai dengan kenyataan. Dalam dunia bisnis katarter ini sangat penting, karena semua transaksi harus dilakukan sesuai kenyataan yang ada. Sebagaimana perintah Rasulullah, misal ada orang yang menjual barang ada cacatnya, maka katakan kepada calon pembeli bahwa barang itu ada sedikit cacatnya. Jangan sekali-kali mengelabuhi orang yang punya niat baik-baik.
4.      Al-Insaniyah, yang artinya kemanusiaan. Jangan sampai kegiatan pemasaran ini dapat merusak tatan hidup dimasyarakat atau menjadikan perikehidupan bermasyarakatan terganggu dan menaati aturan yang kuat yang berkuasa. Sikap kemanusiaan ini bisa dilakukan dengan saling menghormati dan pemasaran berusaha membuat kehidupan menjadi lebih baik. Seorang marketer jangan sampai menjadi orang yang serakah, mau mengusai segalanya, dalam artian terlalu memaksa orang lain untuk mengikuti aturan kita dan orang lain tersebut merasa dirugikan.

B.      Perkembangan Pemasaran Syari’ah
Pada zaman dulu ilmu marketing belum muncul, masyarakat masih berusaha memenuhi kebutuhannya secara pribadi atau individu.Semua barang yang dihasilkan pada hari itu habis pada hari itu juga, yang dikenal dengan sebutan scacity. Kemudian zaman berubah dengan pesat, manusia mulai bisa menciptakan barang-barang untuk memenuhi kebutuhan menggunakan alat bantu mesin. Dan saat mesin sudah bekerja, dapat menhasilkan barang yang banyak dalam waktu yang singkat.Berhubung barangnya melimpah, para produsen harus giat untuk memasarkan barangnya.Dan ilmu marketing mulai diperlukan, yang dikenal dengan sebutan relative plenty.Namun pada keadaan yang seperti itu produsen masih kuat menghadapi konsumen sendiri, yang dikenal dengan sebutan seller’s market.Lama kelamaan produsen semakin banyak dan saling bersaing. Dan keadaan pasar dikuasai oleh konsumen, yang dikenal dengan buyer’s market.
Berikut ini senjata para produsen untuk bersaing :
1.      Persaingan melalui harga
2.      Persaingan melalui kualitas
3.      Persaingan melalui desain
4.      Persaingan emosional
5.      Pamasaran experiental
Adanya banyak cara-cara bersaing para produsen itu menggeser atau mengalami transformasi dari level intelektual (rasional) ke emisional dan akhirnya ke spiritual. Pada level intelektul para pemasar berpikir dengan baik mengenai pemasaran. Namun pada level emosional para pemasar berusaha memahami dan menyentuh emosi atau perasaan konsumen. Pada level spiritual ini bisa dipahami sebagai bisikan nurani.
Pada level spiritual menggunakan bahasa hati, dan konsep spiritual inilah yang merupakan inti dari konsep pemasaran syari’ah. Karena dapat memunculkan aspek kejujuran, empati, cinta, dan kepedulian terhadap sesama.
Berbisnis dalam qalbu, hati adalah sumber pokok bagi segala kebaikan dan kebahagiaan seseorang.Hati merupakan kesempurnaan hidup dan cahayanya.Betapa indahnya sekiranya kita dapat mengelola bisnis kita dengan hati yang bening.Kita menjalani hidup ini dan segala dinikmatinya dengan hati yang bersih. Kitapun akan memperoleh rizki dari sumber yang halal, karena segala aktivitas kita dilandasi dengan niat yang baik, tanpa prasangka buruk, tanpa penipuan, tanpa kebohongan. Semuanya ikhlas semata-mata mencari keridhaan Allah SWT.(Herman K, Muh.Syakir Sula, 2008)[3]
Para konsumen sudah mulai bosan dengan cara-cara produsen untuk bersaing yang sudah keluar dari bahasa hati.Saling menjelekan dan menjatuhkan pesaingnya.Dan tipuan berbagai bentuk sudah dilakukan, seperti suap menyuap untuk melariskan dagangannya dengan menyebarkan fitnah bahwa pesaingnya menggunakan barang haram dalam produksinya. Sikap seperti itu sudah merusak aqidah agama islam. Peristiwa seperti itu mendorong berkembangnya pemasaran syari’ah dengan konsep spiritual  marketing.



C.    Marketing Mix (5P) Dalam Pandangan Islam
Marketing Mix adalah salah satu istilah yang menggambarkan seluruh unsur pemasaran dan faktor produksi yang dikerahkan guna mencapai tujuan badan usaha, missal : laba, penghasilan, harta yang ditanam, omzet penjualan.
Aspek-aspek tersebut dikenal dengan nama lima P dan kesemuanya akan dibahas sebagai berikut:
1.      Produk / Proses Produksi (product)
Pengambilan keputusan mengenai jenis produk dan bagaimana proses produksi akan harus disesuaikan dengan aturan Islam. Merupakan pengetahuan dasar bahwa pemilik bisnis harus tahu tentang aspek produksi dalam etika bisnis Islam.Ibnu Al Ukhuwwah menyebutkan hal-hal penting dalam pengambilan keputusan tentang produk bisnis menurut Islam.Pertama, produk harus legal sesuai dengan hukum Islam.Kedua, produk tersebut harus didukung oleh aset.Ketiga, produk harus bisa diberikan dan nyata.Keempat, identifikasi nilai tambah untuk produk harus dilakukan terlebih dahulu.Kelima, kedua belah pihak harus mengetahui kondisi produk yang sebenarnya dan ada kesepakatan tentang produk yang digunakan dalam transaksi. Dalam cara Islam, proses produksi harus diputuskan sebagai proses yang akan membawa manfaat dan tidak melawan hukum. Salah satu aplikasi dalam aspek ini adalah keputusan dari produk dalam perbankan Islam.
2.      Harga Product (Price)
Dalam menentukan harga dari produk yang dijual, kesan harga palsu dilarang berdasarkan hukum Islam.Mengubah harga tanpa adanya perubahan terhadap kualitas dan kuantitas juga tidak diperbolehkan. Islam tidak membatasi penjual untuk menetapkan harga yang lebih tinggi dari harga pasar, tetapi hal itu harus dilakukan dengan cara yang benar dengan nilai-nilai Islam sebagai pedoman di dalam penetapan harga yang sesuai tersebut. Persaingan yang sehat antar pengusaha adalah suatu keharusan dalam ekonomi Islam. Beberapa kondisi pada zaman Khalifah dan Nabi Muhammad saw dapat menjadi gambaran bagaimana proses penetapan harga produk harus diterapkan dalam bisnis.
3.      Aturan Promosi Produk (Promotion)
Penjual diperbolehkan untuk mempromosikan produk mereka selama promosi ini didasarkan pada kejujuran.Para pengusaha dibatasi untuk memberikan informasi yang berisikan penipuan tentang kondisi sebenarnya dari produk mereka dalam rangka untuk menarik konsumen untuk memilih produk mereka daripada produk pesaing. Menghina penjual lain yang menjual produk yang sama juga bertentangan terhadap prinsip-prinsip bisnis syariah. Teknik promosi dalam Islam tidak membolehkan pedagang untuk menggunakan daya tarik seksual dan ketakutan, testimonial palsu dan teknik yang akan memotivasi para pembeli untuk melakukan hal yang salah seperti pemborosan dan perilaku hidup konsumtif.
4.      Tempat dan Saluran Distribusi (Place)
Memilih saluran tempat dan distribusi adalah penting bagi semua pemilik usaha untuk memperoleh keuntungan.Islam mengajarkan mereka bahwa dalam memutuskan saluran tempat dan distribusi, tidak boleh ada manipulasi, menggunakan pemaksaan dan hal-hal buruk lainnya.Tempat tersebut harus dipilih berdasarkan pada tujuan untuk membawa manfaat bagi konsumen.
5.      Orang-orang (People)
Dalam aspek ini, Islam panduan bagaimana orang harus bertindak pada saat transaksi.Independen dan freedom merupakan dua prinsip yang sangat penting dalam etika pemasaran menurut Islam.Ada beberapa hak konsumen yang telah sesuai dengan aturan bisnis Islam seperti mendapatkan informasi yang akurat.[4]

D.    Stategi Marketing Syari’ah
Ada beberapa paradigma syari’ah Marketing, yaitu :[5]
1). Syari’ah Marketing Statergy
Marketing strategi berusaha menanamkan nama lembaga beserta produknya dibenak konsumen, ini bertujuan untuk mencapai how to win the market           . komponen dalam strategy sebuah perusahaan pertama-tama harus ada pemetaan konsumen, dari mana saj a kelompok konsumennya, aspek psikografis dan sebagainya. Setelah diadakan segmentation, maka dapat diarahkan targeting. Apakah semua segmen akan menjadi target market. Alternatif targeting ini tentu bergantung pada ketersediaan kapasitas perusahaan, masalah keunggulan kompettif yang dimiliki, situasi persaingan pada umumnya serta kondisi lingkungan, ekonomi, politik dan sebagainya.
2). Syari’ah Marketing Tactic
Tactic merupakan aktivitas menggunakan berbagai teknik promosi. Pengabdian pada masyarakat adalah dalam mengusahakan penguasaan pasar, dengan istilah lain how to penetrate a market. Dalam memposisikan produk harus dipelajari bagaimana produsen mencipatakan suatu kesan yang lain, yang lebih baik tentang suatu produk yang sudah ada dan ini berpengaruh terhadap calon konsumen.
3). Syari’ah Marketing Value
Value bertujuan untuk merebut tempat di hati konsumen atau how to create an emotions touch. Value merupakan penanamn nilai-nilai yang makin lama makin bermutu, meningkatkan value added bagi konsumen, layanan memuaskan akan membuat nama perusahaan semakin bergengsi dan kebanggaan konsumen.
4). Spiritual Marketing Image
Spiritual adalah strategi yang paling jitu dan paling unggul dan strategi ini bisa memayungi berbagai macam strategi lainnya. Melalui, spiritual marketing, maka kegiatan perusahaan dalam merketingnya dapat menguasai mind-share, dan heart share. Inti dari spiritual marketing ini adalah kejujuran yang dilandasi dengan keyakinan akan Maha Agungnya, Maha Kuasa, Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Besarnya Allah SWT, yang akan mengawasi setiap perbuatan manusia. Boleh dikatakan aktivitas ini lebih bersifat holistic, sempurna, untuk memenangkan suistainability sebuah perusahaan melalui image yang berbentuk tahap demi tahap dalam perjalanan sebuah perusahaan.





[1] Buchari Alma, Donni Juni Priansa, Manajemen Bisnis Syari’ah, Bandung ; ALFABETA, 2009, hlm.258
[2] Jabir Al-Alwani, Taha, Bisnis Islam, Yogyakarta; AK Group, 2005, hlm.33
[3] Ibid., hlm.262
[4]Ib.eramuslim.com/2012/10/21/marketing-mix-5p-dalam-pandangan-islam/
[5] Buchari Alma, Donni Juni Priansa,op cit. hal:263-266

PENDAPATAN NASIONAL


PENDAPATAN NASIONAL


Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Ekonomi Makro
Dosen Pengampu: Murtadho Ridwan, Lc, M. Sh





Disusun oleh:
Vivi Anggraen                            (211211)
Eni Rohmiyati                             (211221)
Mey Istiana                                 (211239)


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN SYARI’AH (MBS)
TAHUN 2012

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Tolok ukur yang paling banyak dipakai untukmengukur keberhasilan sebuah perekonomian antara lain ialah pendapatan nasional, produk nasional, tingkat kesempatan kerja, tingkat harga dan posisi neraca pembayaran luar negeri. Dari berbagai tolok ukur tersebut yang menjadi pusat perhatian  Ekonomi Makro ialah pendapatan nasional atau national income, yang dalam artian tertentu nilainya tidak berbeda dengan  produk  nasioal atau national income.[1]

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa Saja Komponen yang Masuk Pendapatan Nasional?
2.      Bagaimana Cara Menghitung Pendapatan Nasional?
3.      Apakah Keseimbangan Pendapatan Nasional itu?














BAB II
PEMBAHASAN

A.    Komponen yang Masuk Pendapatan Nasional
Barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan olehsuatu negara dapat dilihat dari 2 fihak: fihak pembeli, konsumen dan fihak penjual, produsen. Dari fihak pembeli pendapatan uang yang diterimanya dikeluarkan kembali untuk membeli barang-barang dan jasa-jasa. Pengeluaran ini adalah untuk konsumsi, disingkat CE. Pendapatan yang tidak dikeluarkan untuk konsumsi adalah tabungan, disingkat S. Dengan demikian pendapatan yang kemudian dikeluarkan lagi ini terdiri dari CE+S.
Sebagai imbangannya dari fihak penjual, produsen, barang-barang yang dibuatnya terdiri dari barang-barang konsumsi, disingkat CP, dan barang-barang modal atau investasi, disingkat I. Barang-barang modal ini terdiri dari:
1)       Gedung-gedung, rumah-rumah, pabrik-pabrik, jalan-jalan dan berbagai alat angkutan;
2)      Mesin-mesin;
3)      Barang konsumsi persediaan, baik yang sudah jadi, setengah jadi (masih dalam proses), maupun bahan mentah,
Dengan demikian dari segi produksi barang-barang ini terdiri dari: CP+I. Kalau kita gabungkan akan terlihat bahwa:
            PNB = CE+S
            PNB = CP+I
Kalau CE= CP maka S = I atau tabungan sama dengan investasi. Apakah CE= CP? Bagaimana kalau yang diproduksikan, CP, lebih besar daripada yang dibeli, CE? Barang-barang konsumsi yang terlanjur dibuat tetapi tak dapat dijual akan tertumpuk di gudang, dan merupakan bagian dari persediaan barang jadi,  masuk investasi. Dengan demikian CE= CP. Demikian pula apabila CE lebih besar daripada CP akan terjadi pengurasan persediaan barang jadi, I berubah menjadi CP dengan kata lain CP bertambah. Kecuali apabila  persediaan barang jadi ini habis sama sekali maka gambarannya akan lain. Dengan demikian maka CE= CP pada setiap waktu.
Kalau kita perluas lagi maka tabungan ini hanya tabungan rumah tangga tetapi juga perusahaan dan pemerintah. Demikian pula investasi tidak hanya perusahaan saja tapi juga pemrintah. Sedemikian besarnya pemerintah sehingga disendirikan. Barang-barang yang dibeli pemerintah sebenarnya tidak hanya terdiri dari barang-barang konsumsi saja seperti alat-alat tulis, kendaraan, dan perbotan tetapi juga barang investasi seperti jalan raya, rumah-rumah dan gedung-gedung. Jadi seharusnya dipisahkan antara keduanya. Tetapi kebiasaan selalu menyatukan keduanya menjadi sektor tersendiri.
Perbuatan barang-barang konsumsi, barang-barang modal, barang-barang untuk keperluan pemerintah, dan barang-barang yang diperdagangkan dengan luar negri ini semua merupakan komponen-komponen PNB dan/atau PDB. Tngkah laku dan pergerakan komponen-komponen  inilah yang selalau diperhatikan oleh para ahli ekonomi. Naik turunnya komponen ini akan menentukan naik turunnya pendapatan nasional, berarti naik turunnya salah satu indikator kemakmuran negara, disamping indikator lainnya. Dari penentuan pendapatan nasional terdapat beberapa komponen yaitu:
a.      Fungsi konsumsi
Salah satu komponen pendapatan nasional adalah konsumsi. Fungsi konsumsi adalah sebuah fungsi yang menghubungkan laju pengeluaran konsumsi dengan tingkat produksi Nasional  atau Pendapatan Nasional. Di duga dengan bertambahnya Pendapatan Nasional akan bertambah pula jumlah konsumsi. Pengalaman sehari-hari memberikan kesan demikian, apabila pendapatan kita bertambah maka pengeluaran konsumsi juga bertambah. Tentu saaja pertambahan pengeluaran konsumsi ini tidak sebanyak pertambahan pendapatan, artinya tambahan pendapatan ini belum tentu dihabiskan semua untuk konsumsi kecuali untuk orang-orang yang berpenghasilan rendah. Penelitian yang sudah ada di Indonesia adalah perubahan proporsi belanja makanan dan bukan makanan dari seluruh jumlah uang yang dibelanjakan. Selanjutnya dari angka-angka pendapatan nasional juga kita dapat memperoleh gambaran konsumsi ini.
b.      Tabungan
Tabungan berarti pendapatan yang tidak dibelanjakan untuk keperluan konsumsi. Tabungan ini bukan suatu konsep sisa, setelah semua keperluan konsumsi dipenuhi dalam jumlah memang berarti demikian meskipun suatu pilihan antara membelanjakannya atau tidak. Orang-orang kaya akan dengan mudah menyisihkan sebagian pendapatannya untuk  tabungan. Tetapi bagi orang miskin mungkin semua pendapatannya dihabiskan untuk komsumsi. Atau mungkin pula malah pengeluarannya lebih besar dari pada penerimaannya alias berhutang. Keadaan ini dinamai tabungan negatif atau dissaving. seseorang dapat mempunyai tabungan negatif pada suatu saat tertentu, tetapi tidak dapat terus menerus berhutang. Karena untuk kelompok miskin itu semua pendapatan dibelanjakan, maka dalam analisa belanja keluarga pengeluaran ini sering dipakai sebagai pengganti pendapatan. Dengan kata lain untuk angka-angka digunakan angka-angka pengeluaran. Penggantian ini hanya tepat untuk golongan berpandapatan rendah, untuk golongan berpendapatan tinggi pendapatan tidak sama dengan pengeluaran karena ada sebagian yang ditabung.
c.        Pembentukan Modal
Investasi atau pembentukan modal adalah tambahan pada barang-barang modal, investasi neto adalah tambahan modal dikurangi penyusutan barang-barang modal atau konsumsi modal. Pembentukan modal ini dimungkinkan karena masyarakat tidak mengkonsumsi semua barang yang diproduksi, atau tidak semua barang yang dihasilkan itu berwujud barang konsumsi.
Kita ingat bahwa tidak semua pendapatan itu dibelanjakan untuk keperluan konsumsi, melainkan sebagian ditabung. Untuk investasi ini diperlukan tabungan. Tabugnan dan investasi ini tidak dikerjakan oleh orang yang sama, tabungan oleh rumah tangga dan perusahaan, sedang investasi oleh sektor perusahaan. Sebagian investasai dibiayai oleh tabungan perusahaan itu sendiri, tetapi sebagian lagi bahkan mungkin sebagian besar, dibiayai oleh tabungan rumah tangga lewat pinjaman dari bank.
Faktor-faktro yang menentukan tinggi rendahnya investasi ini banyak sekali : pertama, pendapatan nasional. Makin tinggi pendapatan nasional makin tinggi pula pengeluaran konsumsi. Pengeluaran konsumsi yang makin tinggi memerlukan produksi barang-barang konsumsi yang lebuh banyak. Produksi barang-barang konsumsi yang lebih banyak memerlukan barang-barang modal yang banyak pula. Lain dari pada itu kenaikan pendapatan nasional akan membangkitkan harapan (expectation) pengusaha untuk memperoleh untung dari penaikan volume usaha. Harapan ini pula yang mendorong pengusaha untuk menambah modal. Harapan pengusaha akan kenaikan kegiatan perekonomian inilah yang merupakanfaktor dinamis yang sukar diramalkan dan karena itu amat mudah berubah. Iinvestasi yang rangsang oleh pertambahan pendapatan nasional ini dinamai investasi yang dirangsang atau induced invesment ; sedang investasi yang tidak ditentukan oleh pendapatan nasional, melainkan faktor lain yang mempengaruhi harapan pengusaha dinamai investasi yang otonom atau autonomous investmen.
Seringkali harapan ini dihubungkan dengan suku bunga. Apabila harapan keuntungan 24% dari investasi lebuh tinggi dari pada bunga investasi misalnya 10% maka pengusaha akan berani memperluas usaahanya dengan menambah modal. Terlihat disini bahwa harapan itu dikuantifikasi. Dirumuskan dalam bentuk fungsi, investasi itu adalah sebagai berikut :                      
                                                I = f (r, Y)
Dimana I adalah investasi ;
                                                dI/dY > 0
kenaikan pendapatan disertai kenaikan investasi, dan
                                                dI/dr < 0
kenaikan bunga disertai dengan penurunan investasi dan sebaliknya. Hubungan antara bunga denngan investasi ini sebenarnya belum teruji benar, masih dugaan atau hipotesa.
d.      Pengeluaran Pemerintah
Pengeluaran pemerintah  sebagai suatu komponen yang makin besar ditentukan oleh atau fungsi dari politik pemerintah sendiri politik pemerintah hampir semata-mata terletak diluar bidang ekonomi. Karena itu pengeluaran pemerintah ini diramalakan dari tindak tanduk pemerintah sendiri.
e.       Export dan Import
Besarnya export sebagian ditentukan oleh permintaan luar negeri sebagian lagi oleh keadaan dalam negeri sepeti tingkat harga dibandingkan dengan barang yang sama dalam negeri lain, hubungan dagang dan politik, politik perniagaan luar negeri, mutu barang, dan perangsang-perangsang export. Demikian pula besarnya impoort dari luar negeri.[2]

B.     Cara Menghitung Pendapatan Nasional
Ada tiga cara penghitungan pendapatan nasional, yaitu metode output (output approach),  metode pendapatan (income approach), metode pengeluaran (expenditure approach). Masing-masing metode (pendekatan) melihat pendapatan nasional dari sudut pandang yang berbeda, tetapi hasilnya saling melengkapi.
a.      Metode Output (Output Approach) atau Metode Produksi
Menurut metode ini, PDB adalah total output (produksi) yang dihasilkan oleh suatu perekonomian. Cara penghitungan dalam praktik adalah dengan membagi-bagi perekonomian menjadi menjadi beberapa sektor produksi (industial origin). Jumlah output masing-masing merupakan jumlah output seluruh perekonomian. Hanya saja, ada kemungkinan bahwa output yang dihasilkan suatu sektor perekonomian berasal dari output sektor lain. Atau bisa juga merupakan input bagi sektor ekonomi yang lain lagi. Dengan kata lain, jika tidak berhati-hati akan terjadi penghitungan ganda (double counting) atau bahkan multiple counting. Akibatnya angka PDB bisa menggelembung beberapa kali lipat dari angka yamg sebenarnya. Untuk menghindarkan hal di atas, maka dalam perhitungan PDB dengan metode produksi, yang dijumlahkan adalah nilai tambah (value added) masing-masing sektor. Yang dimaksud nilai tambah adalah selisih antara nilai output dengan nilai input antara.
NT=NO-NI ........................................................................................... (2.1)
di mana:
            NT       = nilai tambah
            NO      = nilai output
            NI        = nilai input antara
                       
Dari Persamaan (2.1) sebenarnya dapat dikatakan bahwa proses poduksi merupakan proses menciptakan atau meningkatkan nilai tambah. Aktivitas produksi yang baik adalah aktivitas yang menghasilkan NT > 0. Dengan demikian besarnya PDB adalah:
 n
PDB=  Æ© NT ........................................................................................ (2.2)
                                i=1
di mana:
            i = sektor produksi ke 1,2,3,..., n
Tabel 2.1
Output Sektoral Negara Astina, Tahun 2003

Sektor Produksi
Nilai
Output
Nilai
Input
Nilai
Tambaham
1.      Pertanian (kapas)
2.      Pabrik Benang
3.      Pabrik Tekstil
4.      Industri Garmen
5.      Perdagangan (Pakaian)
300

400
600
800
1.000
0

300
400
600
800
300

100
200
200
200
Tabel 2.1 menunjukkan perekonomian astina yang sangat sederhana, karena hanya terdiri atas lima sektor produksi, dari pertanian sampai perdagangan. Hasil produksi perekonomian tersebut sebenarnya merupakan proses pengolahan lebih lanjut dari kapas yang dihasilkan sektor pertanian. Kapas tersebut dibeli oleh pabrik benang untuk diolah lebih lanjut. Kemudian benang yang dihasilkan dijual oleh pabrik benang kepada industri tekstil. Selanjutnya pabrik tekstil menjual output-nya ke industri garmen. Industri garmen menjual lagi output-nya kepada sektor perdagangan pakaian. Akhirnya sektor perdagangan pakaian menjualnya kepada pemakai akhir (masyarakat).
Bila tidak berhati-hati, kita akan mengatakan bahwa nilai produksi total perekonomian Astina di tahun 2003 adalah sama dengan nilai output total masing-masing sektor, atau 3.100, yaitu 300+400+600+800+1.000. Padahal, nilai output perekonomian Astina sebenarnya 1.000. Mengapa kita tidak boleh menjumlahkan nilai output masing-masing sektor? Jawabannya adalah: Karena menyebabkan perhitungan ganda. Misalnya nilai output pabrik benang yang besarnya 400, sebesar 300 merupakan hasil sektor pertanian kapas. Begitu juga hasil produksi sektor pabrik tekstil yang sebesar 600, menggunakan input yang merupakan output pabrik benang senilai 400. Padahal pabrik benang, untuk menghasilkan output senilai 400, membeli output sektor pertanian kapas senilai 300 sebagai input antara.
Untuk menghindarkan perhitungan ganda, maka nilai PDB dihitung dengan menjumlahkan nilai tambah masing-masing sektor produksi. Karena itu perhitungan PDB yang benar adalah:
        n
PDB2003  = Æ© NT = 300+100+200+200+200 = 1.000
                                        i=1
Angka PDB2003  adalah sama dengan angka nilai jual output sektor perdagangan pakaian, karena telah terjadi proses akumulasi nilai tambah.
Tabel 2.2 adalah contoh perhitungan PDB berdasarkan metode produksi untuk perekonomian Indonesia tahun 1996. Dari tabel tersebut dapat kita baca bahwa perekonomian Indonesia terdiri atas 9 sektor, yang terbagi lagi menjadi berbagai subsektor. Angka-angka dalam tabel menunjukkan besarnya nilai tambah masing-masing sektor ekonomi di indonesia.

Tabel 2.2
PDB Indonesia 1996, Harga Berlaku
Berdasarkan Sektor (Industrial origin)
(Dalam Miliar Rupiah)
Lapangan Usaha
(Industrial origin)
PDB
1996
1.      Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan
2.      Pertambangan dan Penggalian
3.      Industri Pengolahan
4.      Listrik, Gas dan Air Bersih
5.      Bangunan
6.      Perdagangan, Hotel dan Restoran
7.      Pengangkutan dan Komunikasi
8.      Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan
9.      Jasa-jasa
86.212

43.893
133.088
6.561
42.279
88.451
35.554
38.769

54.149
Produk Domestik Bruto

528.956

Sumber : Laporan Bank Dunia (country report, 1997).

b.      Metode Pendapatan (Income Approach )
Metode pendapatan memandang nilai output perekonomian sebagai nilai total balas jasa atas faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi. Hubungan antara tingkat output dengan faktor-faktor produksi yang digunakan digambarkan dalam fungsi produksi sederhana di bawah ini.
      Q = f(L, K, U, E) ......................................................................................... (2.3)
      di mana:
                  Q = output
                  L = tenaga kerja
                  K = barang modal
                  U = uang/finansial
                  E = kemampuan entrepreneur atau kewirausahaan
Persamaan 2.3 menunjukkan bahwa untuk memproduksi output dibutuhkan input berupa tenaga kerja , barang modal dan uang/finansial. Jumlah tenaga kerja, barang modal dan uang yang banyak tidak akan menghasilkan apa-apa jika tidak ada kemampuan entrepreneur. Kemampuan entrepreneur ini adalah kemampuan dan keberanian mengkombinasikan tenaga kerja, barang modal dan uang untuk menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka yang memiliki kemampuan entrepreneur ini dikenal sebagai pengusaha.
Balas jasa untuk tenaga kerja adalah upah atau gaji. Untuk barang modal adalah pendapatan sewa. Untuk pemilik uang/aset finansial adalah pendapatan bunga. Sedangkan untuk pengusaha adalah keuntungan. Total balas jasa atas seluruh faktor produksi disebut Pendapatan Nasional (PN).
PN = w+I+r+Ï€ ........................................................................................................... (2.4)
di mana:
            w = upah/gaji
            I = pendapatan bunga
            r = pendapatan sewa
            Ï€ = keuntungan
Di Indonesia, perhitungan Pendapatan Nasional seperti yang dimaksudkan dalam teori, jarang dipublikasikan. Karena itu contoh yang diambil adalah data Pendapatan Nasional perekonomian Amerika Serikat, seperti yang disajikan dalam tabel 2.3
Tabel 2.3
Pendapatan Nasional Amerika Serikat
Tahun 1994 Berdasarkan Pendekatan Pendapatan
(Dalam US$ Miliar)
Pendapatan upah /gaji (computation of employes)
Pendapatan non gaji (properties income)
Keuntungan perusahaan (corporate profits)
Pendapatan bunga neto (net interes)
Pendapatan sewa (rental income)
4.004,6

473,7
542,7
409,7
27,7

Pendapatan Nasional (national Income)
5.458,4

Sumber: Diolah dari Case & Fair (1996), Tabel 22.3, hal. 576.
c.       Metode  Pengeluaran (Expenditure Approach)
Menurut  metode pengeluaran, nilai PDB merupakan nilai total pengeluaran dalam perekonomian selama periode tertentu. Menurut metode ini beberapa jenis pengeluaran agregat dalam suatu perekononian:
1)      Konsumsi Rumah Tangga (Household Consumption)
2)      Konsumsi Pemerintah (Government Consumption)
3)      Pengeluaran Investasi (Investment expenditure)
4)      Ekspor Neto (Net Export)

1)      Konsumsi rumah Tangga (Household Consumption)
Pengeluaran sektor rumah tangga dipakai untuk konsumsi akhir, baik barang dan jasa yang habis dipakai dalam tempo setahun atau kurang (Durable goods) maupun barang yang dapat dipakai lebih dari setahun (Non-durable goods).

2)      Konsumsi Pemerintah (Government Consumption)
Yang masuk dalam perhitungan konsumsi pemerintah adalah pengeluaran-pengeluaran pemerintah yang digunakan untuk membeli barang dan jasa akhir. Sedangkan pengeluaran-pengeluaran untuk tunjangan-tunjangan sosial tidak masuk dalam perhitungan konsumsi pemerintah. Itulah sebabnya dalam data statistik PDB, pengeluaran konsumsi pemerintah nilainya lebih kecil daripada pengeluaran yang tertera dalam anggaran pemerintah (sisi pengeluaran anggaran negara).
3)      Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (Investment Expenditure)
Pembentukan modal tetap domestik bruto (PMTDB) merupakan pengeluaran sektor dunia usaha. Pengeluaran ini dilakukan untuk memelihara dan memperbaiki kemampuan menciptakan/meningkatkan nilai tambah. Termasuk dalam PMTDB adalah perubahan stok, baik berupa barang jadi maupun barang setengah jadi. Untuk mengetahui berapa potensi produksi, akan lebih akurat bila dihitung adalah investasi neto (net investment), yaitu investasi bruto dikurangi penyusutan. Penghitungan PMTDB ini menunjukkan bahwa pendekatan pengeluaran, lebih mempertimbangkan barang-barang modal yang baru (newly capital goods). Barang-barang modal tersebut merupakan output baru, karena itu harus dimasukkan dalam penghitungan PDB.
4)      Ekspor Neto (Net Export)
Yang dimaksud dengan ekspor bersih adalah selisih antara nilai ekspor dengan impor. Ekspor neto yang positif menunjukkan bahwa ekspor lebih besar daripada impor. Begitu juga sebaliknya. Perhitungan ekspor neto dilakukan bila perekonomian melakukan transaksi dengan perekonomian lain (dunia).
Nilai PDB berdasarkan metode pengeluaran adalah nilai total lima jenis pengeluaran tersebut:
PDB = C+G+I+(X-M) ......................................................................................... (2.5)
di mana:

            C = konsumsi rumah tangga
            G = konsumsi pemerintah
            I = PMTDB
            X = Ekspor
            M = Impor
Tabel 2.4 dibawah ini adalah data pendapatan nasional indonesia tahun 1996 berdasarkan struktur pengeluarannya. Dari data tersebut terlihat bahwa porsi pengeluaran terbesar adalah untuk konsumsi rumah tangga. Porsi pengeluaran lain yang relatif besar adalah PMTDB.  Data ekspor bersih menunjukkan bahwa perekonomian indonesia merupakan perekonomian ternuka, yang melakukan transaksi ekspor-impor dengan perekonomian dunia (global).
Tabel 2.4
Produk Domestik Bruto Indonesia 1996
(Harga Berlaku) Menurut Pengeluaran
(Dalam Miliar Rupiah)
1.      Konsumsi Rumah Tangga (Privat Consumption)
2.      Konsumsi Pemerintah (Government Consumption)
3.      Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (Gross capital Formation)
4.      Ekspor Barang dan Jasa (Export of Goods & Services)
5.      Impor Barang dan Jasa (Import of Goods & Services)

308.469
40.695
172.777

138.675
-131.660

Total PDB (GDB)
528.956

Catatan: Ekspor Bersih (Net Export) = Ekspor-Impor = 7.015, angka positif menunjukkan ekspor barang dan jasa tahun 1996 lebih besar Rp 7.015 miliar daripada impor barang dan jasa.
Sumber:    1) International Financial Statistics (IMF), 1997.
2)  badan Pusat Statistik.[3]

C.    Keseimbangan Pendapatan Nasional
Dalam bukunya The General Theory, Keynes menjelaskan faktor-faktor yang menentukan pendapatan nasional. Menurut kaum klasik, pendapatan nasional akan selalu dalam keadaan full employment di mana keinginan masyarakat untuk menabung sama dengan keinginan perusahaan untuk melakukan investasi (dalam arti ex ante). Dalam kenyataannya (ex post) tabungan selalu sama dengan investasi. Namun ex post tabungan sama dengan investasi bukanlah merupakan syarat adanya keseimbangan dalam pendapatan nasional yang selalu dalam keadaan full employment. Keynes menambah keadaan ini dan menyatakan bahwa pendapatan  nasional yang seimbang dapat terjadi pada keadaan kurang dari full employment.
Perbedaan pendapat ini secara sederhana dapat dijelaskan dengan contoh sebagai berikut: Misalnya, sektor perusahaan menghasilkan output sebesar Rp1.000 juta (Y) dalam keadaan full employment dan mengharapkan dapat menjual Rp800 juta kepada sektor rumah tangga (C) dan ingin menggunakan sisanya yang sebesar Rp200 juta untuk investasi (persediaan termasuk dalam pengertian investasi). Mereka akan tetap menghasilkan sejumlah itu sepanjang keinginan untuk menjual terealisir. Jika konsumen (Rumah Tangga) merencanakan membeli sebesar Rp800 juta (dengan demikian keinginan untuk menabung sebesar Rp200 juta) maka apa yang diinginkan oleh sektor perusahaan persis sama dengan yang diinginkan oleh konsumen. Tetapi, apabila konsumen memutuskan  hanya akan membelanjakan sebesar Rp700 juta (berarti keinginan menabung sebesar Rp300 juta) maka keinginan pihak kedua tidak sama. Apa yang terjadi? Di sinilah (dalam menjawab pertanyaan tersebut) letak perbedaan antara kaum klasik dan keynes.
Dalam kasus di atas,sektor perusahaan akan mengalami tambahan persediaan yang tidak dikehendaki (unintented inventory) sebesar Rp100 juta. Total persediaan (kenyataan) menjadi sebesar Rp300 juta (dalam man yang sebesar Rp100 juta tak dikehendaki) sama dengan total tabungan Rp300 juta (semuanya diinginkan konsumen). Dalam hal ini keinginan menabung konsumen (Rp300 juta) lebih besar daripada keinginan investasi sektor perusahaan (Rp200 juta).
Menurut klasik, akibat dari keadaan ini (keinginan menabung lebih besar   daripada
keinginan investasi) akan terjadi perubahan harga. Karena sektor perusahaan tidak bisa menjual output yang direncanakan (adanya persediaan yang tak diinginkan sebesar Rp100 juta), maka mereka akan menurunkan harga outputnya sampai semua persediaan yang tak diinginkan tersebut terjual habis, buruh akan menurunkan tuntutan upahnya (daripada menganggur), dan tingkat bunga akan turun karena keinginan menabung lebih besar daripada keinginan investasi. Turunnya tingkat bunga ini akan menurunkan keinginan menabung (dus menambah keinginan untuk membeli barang) dan mendorong untuk melakukan investasi sampai keinginan menabung kembali sama dengan keinginan investasi dan sektor perusahaan kembali pada produksi full employment.
Keynes mengajukan penyelesaian yang berbeda. Harga barang relatif tetap dan mungkin tidak turun meskipun terdapat kelebihan persediaan barang. Demikian pula upah, sangat sukar untuk turun, mungkin karena adanya tantangan dari serikat buruh, dan yang lebih penting lagi, bahwa tingkat bunga tidaklah dapat menyamakan tabungan dengan investasi. Tingkat bunga ditentukan di dalam pasar uang, yang membuat permintaan akan uang sama dengan penawarannya. Secara terperinci hal ini akan dijelaskan pada subbab berikut.
Menurut Keynes, apabila sektor perusahaan mengalami tambahan persediaan yang tidak diinginkan, pengusaha akan memperkecil/mengurangi produksi. Output akan turun selama keinginan menabung lebih besar dari pada keinginan untuk investasi (dus, ada persediaan yang tidak diinginkan). Proses turunnya output itu akan terus berlangsung sampai keinginan menabung sama dengan keinginan investasi, dalam mana pendapatan nasional keseimbangan yang baru lebih rendah dari semula. Berapa besarnya penurunan pendapatan nasional sebagai akibat keinginan menabung lebih besar daripada keinginan investasi? Untuk melihat hal ini keynes menciptakan fungsi konsumsi (dilihat dari segi lain juga merupakan fungsi tabungan). [4]

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan olehsuatu negara dapat dilihat dari 2 fihak: fihak pembeli, konsumen dan fihak penjual, produsen. Dari fihak pembeli pendapatan uang yang diterimanya dikeluarkan kembali untuk membeli barang-barang dan jasa-jasa.
Ada tiga cara penghitungan pendapatan nasional, yaitu metode output (output approach),  metode pendapatan (income approach), metode pengeluaran (expenditure approach).
Dalam bukunya The General Theory, Keynes menjelaskan faktor-faktor yang menentukan pendapatan nasional. Menurut kaum klasik, pendapatan nasional akan selalu dalam keadaan full employment di mana keinginan masyarakat untuk menabung sama dengan keinginan perusahaan untuk melakukan investasi (dalam arti ex ante). Dalam kenyataannya (ex post) tabungan selalu sama dengan investasi.




DAFTAR PUSTAKA

Soediyono Reksoprayitno, 2000, Pengantar Ekonomi Makro, Yogyakarta: BPFE-YOGYAKARTA
Prathama Rahardja, 2005, Teori Ekonomi Makro,Jakarta:  Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
Nopirin, 1994, Pengantar Ilmu ekonomi Makro & Mikro, Yogyakarta: : BPFE-YOGYAKARTA
Ace Partadiredja, 1985, Pengantar Ekonomika, Yogyakarta: : BPFE-YOGYAKARTA


[1] Soediyono Reksoprayitno, 2000, Pengantar Ekonomi Makro, BPFE-YOGYAKARTA, hlm. 15.
[2] Prathama Rahardja, 2005, Teori Ekonomi Makro,Jakarta:  Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia 16-22

[3] Nopirin, 1994, Pengantar Ilmu ekonomi Makro & Mikro, Yogyakarta: : BPFE-YOGYAKARTA 79-81

[4] Ace Partadiredja, 1985, Pengantar Ekonomika, Yogyakarta: : BPFE-YOGYAKARTA 59-68