PENDAPATAN NASIONAL
Makalah
Disusun
Guna Memenuhi Tugas
Mata
Kuliah: Ekonomi Makro
Dosen
Pengampu: Murtadho Ridwan, Lc, M. Sh

Disusun oleh:
Vivi
Anggraen (211211)
Eni Rohmiyati (211221)
Mey Istiana (211239)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
KUDUS
JURUSAN SYARI’AH (MBS)
TAHUN 2012
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Tolok ukur yang
paling banyak dipakai untukmengukur keberhasilan sebuah perekonomian antara
lain ialah pendapatan nasional, produk nasional, tingkat kesempatan kerja,
tingkat harga dan posisi neraca pembayaran luar negeri. Dari berbagai tolok
ukur tersebut yang menjadi pusat perhatian Ekonomi
Makro ialah pendapatan nasional atau
national income, yang dalam artian tertentu
nilainya tidak berbeda dengan produk nasioal atau national income.[1]
B.
Rumusan Masalah
1. Apa Saja Komponen
yang Masuk Pendapatan Nasional?
2. Bagaimana Cara
Menghitung Pendapatan Nasional?
3. Apakah Keseimbangan
Pendapatan Nasional itu?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Komponen yang Masuk
Pendapatan Nasional
Barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan
olehsuatu negara dapat dilihat dari 2 fihak: fihak pembeli, konsumen dan fihak
penjual, produsen. Dari fihak pembeli pendapatan uang yang diterimanya
dikeluarkan kembali untuk membeli barang-barang dan jasa-jasa. Pengeluaran ini
adalah untuk konsumsi, disingkat CE. Pendapatan yang tidak
dikeluarkan untuk konsumsi adalah tabungan, disingkat S. Dengan demikian
pendapatan yang kemudian dikeluarkan lagi ini terdiri dari CE+S.
Sebagai imbangannya dari fihak penjual, produsen,
barang-barang yang dibuatnya terdiri dari barang-barang konsumsi, disingkat CP,
dan barang-barang modal atau investasi, disingkat I. Barang-barang modal ini
terdiri dari:
1) Gedung-gedung, rumah-rumah, pabrik-pabrik,
jalan-jalan dan berbagai alat angkutan;
2) Mesin-mesin;
3) Barang konsumsi
persediaan, baik yang sudah jadi, setengah jadi (masih dalam proses), maupun
bahan mentah,
Dengan demikian dari segi produksi barang-barang
ini terdiri dari: CP+I. Kalau kita gabungkan akan terlihat bahwa:
PNB = CE+S
PNB = CP+I
Kalau CE= CP maka S = I atau
tabungan sama dengan investasi. Apakah CE= CP? Bagaimana
kalau yang diproduksikan, CP, lebih besar daripada yang dibeli, CE?
Barang-barang konsumsi yang terlanjur dibuat tetapi tak dapat dijual akan
tertumpuk di gudang, dan merupakan bagian dari persediaan barang jadi, masuk investasi. Dengan demikian CE=
CP. Demikian pula apabila CE lebih besar daripada CP
akan terjadi pengurasan persediaan barang jadi, I berubah menjadi CP
dengan kata lain CP bertambah. Kecuali apabila persediaan barang jadi ini habis sama sekali
maka gambarannya akan lain. Dengan demikian maka CE= CP
pada setiap waktu.
Kalau kita perluas lagi maka tabungan ini hanya
tabungan rumah tangga tetapi juga perusahaan dan pemerintah. Demikian pula
investasi tidak hanya perusahaan saja tapi juga pemrintah. Sedemikian besarnya
pemerintah sehingga disendirikan. Barang-barang yang dibeli pemerintah
sebenarnya tidak hanya terdiri dari barang-barang konsumsi saja seperti
alat-alat tulis, kendaraan, dan perbotan tetapi juga barang investasi seperti
jalan raya, rumah-rumah dan gedung-gedung. Jadi seharusnya dipisahkan antara
keduanya. Tetapi kebiasaan selalu menyatukan keduanya menjadi sektor
tersendiri.
Perbuatan barang-barang konsumsi, barang-barang
modal, barang-barang untuk keperluan pemerintah, dan barang-barang yang
diperdagangkan dengan luar negri ini semua merupakan komponen-komponen PNB
dan/atau PDB. Tngkah laku dan pergerakan komponen-komponen inilah yang selalau diperhatikan oleh para
ahli ekonomi. Naik turunnya komponen ini akan menentukan naik turunnya
pendapatan nasional, berarti naik turunnya salah satu indikator kemakmuran
negara, disamping indikator lainnya. Dari penentuan pendapatan nasional
terdapat beberapa komponen yaitu:
a.
Fungsi konsumsi
Salah satu komponen pendapatan nasional adalah
konsumsi. Fungsi konsumsi adalah sebuah fungsi yang menghubungkan laju
pengeluaran konsumsi dengan tingkat produksi Nasional atau Pendapatan Nasional. Di duga dengan
bertambahnya Pendapatan Nasional akan bertambah pula jumlah konsumsi.
Pengalaman sehari-hari memberikan kesan demikian, apabila pendapatan kita bertambah
maka pengeluaran konsumsi juga bertambah. Tentu saaja pertambahan pengeluaran
konsumsi ini tidak sebanyak pertambahan pendapatan, artinya tambahan pendapatan
ini belum tentu dihabiskan semua untuk konsumsi kecuali untuk orang-orang yang
berpenghasilan rendah. Penelitian yang sudah ada di Indonesia adalah perubahan
proporsi belanja makanan dan bukan makanan dari seluruh jumlah uang yang
dibelanjakan. Selanjutnya dari angka-angka pendapatan nasional juga kita dapat
memperoleh gambaran konsumsi ini.
b.
Tabungan
Tabungan berarti pendapatan yang tidak
dibelanjakan untuk keperluan konsumsi. Tabungan ini bukan suatu konsep sisa,
setelah semua keperluan konsumsi dipenuhi dalam jumlah memang berarti demikian
meskipun suatu pilihan antara membelanjakannya atau tidak. Orang-orang kaya
akan dengan mudah menyisihkan sebagian pendapatannya untuk tabungan. Tetapi bagi orang miskin mungkin
semua pendapatannya dihabiskan untuk komsumsi. Atau mungkin pula malah
pengeluarannya lebih besar dari pada penerimaannya alias berhutang. Keadaan ini
dinamai tabungan negatif atau dissaving. seseorang
dapat mempunyai tabungan negatif pada suatu saat tertentu, tetapi tidak dapat
terus menerus berhutang. Karena untuk kelompok miskin itu semua pendapatan
dibelanjakan, maka dalam analisa belanja keluarga pengeluaran ini sering dipakai
sebagai pengganti pendapatan. Dengan kata lain untuk angka-angka digunakan
angka-angka pengeluaran. Penggantian ini hanya tepat untuk golongan
berpandapatan rendah, untuk golongan berpendapatan tinggi pendapatan tidak sama
dengan pengeluaran karena ada sebagian yang ditabung.
c.
Pembentukan Modal
Investasi atau pembentukan modal adalah tambahan
pada barang-barang modal, investasi neto adalah tambahan modal dikurangi
penyusutan barang-barang modal atau konsumsi modal. Pembentukan modal ini
dimungkinkan karena masyarakat tidak mengkonsumsi semua barang yang diproduksi,
atau tidak semua barang yang dihasilkan itu berwujud barang konsumsi.
Kita ingat bahwa tidak semua pendapatan itu
dibelanjakan untuk keperluan konsumsi, melainkan sebagian ditabung. Untuk
investasi ini diperlukan tabungan. Tabugnan dan investasi ini tidak dikerjakan
oleh orang yang sama, tabungan oleh rumah tangga dan perusahaan, sedang
investasi oleh sektor perusahaan. Sebagian investasai dibiayai oleh tabungan
perusahaan itu sendiri, tetapi sebagian lagi bahkan mungkin sebagian besar,
dibiayai oleh tabungan rumah tangga lewat pinjaman dari bank.
Faktor-faktro yang menentukan tinggi rendahnya
investasi ini banyak sekali : pertama, pendapatan nasional. Makin tinggi
pendapatan nasional makin tinggi pula pengeluaran konsumsi. Pengeluaran
konsumsi yang makin tinggi memerlukan produksi barang-barang konsumsi yang
lebuh banyak. Produksi barang-barang konsumsi yang lebih banyak memerlukan
barang-barang modal yang banyak pula. Lain dari pada itu kenaikan pendapatan
nasional akan membangkitkan harapan (expectation) pengusaha untuk memperoleh
untung dari penaikan volume usaha. Harapan ini pula yang mendorong pengusaha
untuk menambah modal. Harapan pengusaha akan kenaikan kegiatan perekonomian
inilah yang merupakanfaktor dinamis yang sukar diramalkan dan karena itu amat
mudah berubah. Iinvestasi yang rangsang oleh pertambahan pendapatan nasional
ini dinamai investasi yang dirangsang atau induced invesment ; sedang investasi
yang tidak ditentukan oleh pendapatan nasional, melainkan faktor lain yang
mempengaruhi harapan pengusaha dinamai investasi yang otonom atau autonomous
investmen.
Seringkali harapan ini dihubungkan dengan suku
bunga. Apabila harapan keuntungan 24% dari investasi lebuh tinggi dari pada
bunga investasi misalnya 10% maka pengusaha akan berani memperluas usaahanya
dengan menambah modal. Terlihat disini bahwa harapan itu dikuantifikasi.
Dirumuskan dalam bentuk fungsi, investasi itu adalah sebagai berikut :
I
= f (r, Y)
Dimana I adalah investasi ;
dI/dY
> 0
kenaikan pendapatan disertai kenaikan
investasi, dan
dI/dr
< 0
kenaikan bunga disertai dengan penurunan
investasi dan sebaliknya. Hubungan antara bunga denngan investasi ini
sebenarnya belum teruji benar, masih dugaan atau hipotesa.
d.
Pengeluaran Pemerintah
Pengeluaran pemerintah sebagai suatu komponen yang makin besar
ditentukan oleh atau fungsi dari politik pemerintah sendiri politik pemerintah
hampir semata-mata terletak diluar bidang ekonomi. Karena itu pengeluaran
pemerintah ini diramalakan dari tindak tanduk pemerintah sendiri.
e.
Export dan Import
Besarnya export sebagian ditentukan oleh
permintaan luar negeri sebagian lagi oleh keadaan dalam negeri sepeti tingkat
harga dibandingkan dengan barang yang sama dalam negeri lain, hubungan dagang
dan politik, politik perniagaan luar negeri, mutu barang, dan
perangsang-perangsang export. Demikian pula besarnya impoort dari luar negeri.[2]
B.
Cara Menghitung Pendapatan
Nasional
Ada tiga cara penghitungan pendapatan nasional,
yaitu metode output (output approach), metode pendapatan (income approach), metode pengeluaran (expenditure approach). Masing-masing metode (pendekatan) melihat
pendapatan nasional dari sudut pandang yang berbeda, tetapi hasilnya saling
melengkapi.
a.
Metode Output (Output
Approach) atau Metode Produksi
Menurut metode ini, PDB adalah total output (produksi) yang dihasilkan oleh
suatu perekonomian. Cara penghitungan dalam praktik adalah dengan membagi-bagi
perekonomian menjadi menjadi beberapa sektor produksi (industial origin). Jumlah output
masing-masing merupakan jumlah output seluruh perekonomian. Hanya saja, ada
kemungkinan bahwa output yang dihasilkan suatu sektor perekonomian berasal dari
output sektor lain. Atau bisa juga merupakan input bagi sektor ekonomi yang
lain lagi. Dengan kata lain, jika tidak berhati-hati akan terjadi penghitungan
ganda (double counting) atau bahkan multiple counting. Akibatnya angka PDB
bisa menggelembung beberapa kali lipat dari angka yamg sebenarnya. Untuk
menghindarkan hal di atas, maka dalam perhitungan PDB dengan metode produksi,
yang dijumlahkan adalah nilai tambah (value
added) masing-masing sektor. Yang dimaksud nilai tambah adalah selisih
antara nilai output dengan nilai input antara.
NT=NO-NI
...........................................................................................
(2.1)
di mana:
NT = nilai tambah
NO = nilai output
NI = nilai input antara
Dari Persamaan (2.1) sebenarnya dapat dikatakan
bahwa proses poduksi merupakan proses menciptakan atau meningkatkan nilai
tambah. Aktivitas produksi yang baik adalah aktivitas yang menghasilkan NT >
0. Dengan demikian besarnya PDB adalah:
n
PDB= Ʃ NT ........................................................................................
(2.2)
i=1
di mana:
i = sektor produksi ke
1,2,3,..., n
Tabel 2.1
Output Sektoral Negara
Astina, Tahun 2003
|
Sektor Produksi
|
Nilai
Output
|
Nilai
Input
|
Nilai
Tambaham
|
|
1. Pertanian (kapas)
2. Pabrik Benang
3. Pabrik Tekstil
4. Industri Garmen
5. Perdagangan
(Pakaian)
|
300
400
600
800
1.000
|
0
300
400
600
800
|
300
100
200
200
200
|
Tabel 2.1 menunjukkan perekonomian astina yang
sangat sederhana, karena hanya terdiri atas lima sektor produksi, dari
pertanian sampai perdagangan. Hasil produksi perekonomian tersebut sebenarnya
merupakan proses pengolahan lebih lanjut dari kapas yang dihasilkan sektor
pertanian. Kapas tersebut dibeli oleh pabrik benang untuk diolah lebih lanjut.
Kemudian benang yang dihasilkan dijual oleh pabrik benang kepada industri tekstil.
Selanjutnya pabrik tekstil menjual output-nya ke industri garmen. Industri
garmen menjual lagi output-nya kepada sektor perdagangan pakaian. Akhirnya
sektor perdagangan pakaian menjualnya kepada pemakai akhir (masyarakat).
Bila tidak berhati-hati, kita akan mengatakan
bahwa nilai produksi total perekonomian Astina di tahun 2003 adalah sama dengan
nilai output total masing-masing sektor, atau 3.100, yaitu
300+400+600+800+1.000. Padahal, nilai output perekonomian Astina sebenarnya
1.000. Mengapa kita tidak boleh menjumlahkan nilai output masing-masing sektor?
Jawabannya adalah: Karena menyebabkan perhitungan ganda. Misalnya nilai output
pabrik benang yang besarnya 400, sebesar 300 merupakan hasil sektor pertanian
kapas. Begitu juga hasil produksi sektor pabrik tekstil yang sebesar 600,
menggunakan input yang merupakan output pabrik benang senilai 400. Padahal pabrik
benang, untuk menghasilkan output senilai 400, membeli output sektor pertanian
kapas senilai 300 sebagai input antara.
Untuk menghindarkan perhitungan ganda, maka nilai
PDB dihitung dengan menjumlahkan nilai tambah masing-masing sektor produksi.
Karena itu perhitungan PDB yang benar adalah:
n
PDB2003
= Ʃ NT = 300+100+200+200+200 = 1.000
i=1
Angka PDB2003
adalah sama dengan angka nilai jual output sektor perdagangan
pakaian, karena telah terjadi proses akumulasi nilai tambah.
Tabel 2.2 adalah contoh perhitungan PDB
berdasarkan metode produksi untuk perekonomian Indonesia tahun 1996. Dari tabel
tersebut dapat kita baca bahwa perekonomian Indonesia terdiri atas 9 sektor,
yang terbagi lagi menjadi berbagai subsektor. Angka-angka dalam tabel
menunjukkan besarnya nilai tambah masing-masing sektor ekonomi di indonesia.
Tabel 2.2
PDB Indonesia 1996, Harga
Berlaku
Berdasarkan Sektor (Industrial origin)
(Dalam Miliar Rupiah)
|
Lapangan Usaha
(Industrial origin)
|
PDB
1996
|
|
1. Pertanian,
Peternakan, Kehutanan dan Perikanan
2. Pertambangan dan
Penggalian
3. Industri Pengolahan
4. Listrik, Gas dan
Air Bersih
5. Bangunan
6. Perdagangan, Hotel
dan Restoran
7. Pengangkutan dan
Komunikasi
8. Keuangan, Persewaan
& Jasa Perusahaan
9. Jasa-jasa
|
86.212
43.893
133.088
6.561
42.279
88.451
35.554
38.769
54.149
|
|
Produk Domestik Bruto
|
528.956
|
Sumber : Laporan Bank Dunia (country
report, 1997).
b.
Metode Pendapatan (Income Approach )
Metode pendapatan memandang nilai output
perekonomian sebagai nilai total balas jasa atas faktor produksi yang digunakan
dalam proses produksi. Hubungan antara tingkat output dengan faktor-faktor
produksi yang digunakan digambarkan dalam fungsi produksi sederhana di bawah
ini.
Q = f(L, K, U, E)
.........................................................................................
(2.3)
di mana:
Q = output
L = tenaga kerja
K
= barang modal
U = uang/finansial
E = kemampuan
entrepreneur atau kewirausahaan
Persamaan 2.3 menunjukkan bahwa untuk memproduksi
output dibutuhkan input berupa tenaga kerja , barang modal dan uang/finansial.
Jumlah tenaga kerja, barang modal dan uang yang banyak tidak akan menghasilkan
apa-apa jika tidak ada kemampuan entrepreneur.
Kemampuan entrepreneur ini adalah
kemampuan dan keberanian mengkombinasikan tenaga kerja, barang modal dan uang
untuk menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat. Dalam kehidupan
sehari-hari, mereka yang memiliki kemampuan entrepreneur
ini dikenal sebagai pengusaha.
Balas jasa untuk tenaga kerja adalah upah atau
gaji. Untuk barang modal adalah pendapatan sewa. Untuk pemilik uang/aset
finansial adalah pendapatan bunga. Sedangkan untuk pengusaha adalah keuntungan.
Total balas jasa atas seluruh faktor produksi disebut Pendapatan Nasional (PN).
PN = w+I+r+π
...........................................................................................................
(2.4)
di mana:
w = upah/gaji
I = pendapatan bunga
r = pendapatan sewa
π = keuntungan
Di Indonesia, perhitungan Pendapatan Nasional seperti
yang dimaksudkan dalam teori, jarang dipublikasikan. Karena itu contoh yang
diambil adalah data Pendapatan Nasional perekonomian Amerika Serikat, seperti
yang disajikan dalam tabel 2.3
Tabel 2.3
Pendapatan Nasional Amerika Serikat
Tahun 1994 Berdasarkan Pendekatan
Pendapatan
(Dalam US$ Miliar)
|
Pendapatan
upah /gaji (computation of employes)
Pendapatan
non gaji (properties income)
Keuntungan
perusahaan (corporate profits)
Pendapatan
bunga neto (net interes)
Pendapatan
sewa (rental income)
|
4.004,6
473,7
542,7
409,7
27,7
|
|
Pendapatan
Nasional (national Income)
|
5.458,4
|
Sumber: Diolah dari Case & Fair (1996), Tabel
22.3, hal. 576.
c.
Metode Pengeluaran (Expenditure Approach)
Menurut
metode pengeluaran, nilai PDB merupakan nilai total pengeluaran dalam perekonomian
selama periode tertentu. Menurut metode ini beberapa jenis pengeluaran agregat
dalam suatu perekononian:
1) Konsumsi Rumah Tangga
(Household Consumption)
2) Konsumsi Pemerintah (Government Consumption)
3) Pengeluaran Investasi
(Investment expenditure)
4) Ekspor Neto (Net Export)
1)
Konsumsi rumah Tangga (Household Consumption)
Pengeluaran sektor rumah tangga dipakai untuk
konsumsi akhir, baik barang dan jasa yang habis dipakai dalam tempo setahun
atau kurang (Durable goods) maupun barang yang dapat dipakai lebih dari setahun
(Non-durable goods).
2)
Konsumsi Pemerintah (Government Consumption)
Yang masuk dalam perhitungan konsumsi pemerintah
adalah pengeluaran-pengeluaran pemerintah yang digunakan untuk membeli barang
dan jasa akhir. Sedangkan pengeluaran-pengeluaran untuk tunjangan-tunjangan
sosial tidak masuk dalam perhitungan konsumsi pemerintah. Itulah sebabnya dalam
data statistik PDB, pengeluaran konsumsi pemerintah nilainya lebih kecil
daripada pengeluaran yang tertera dalam anggaran pemerintah (sisi pengeluaran
anggaran negara).
3)
Pembentukan Modal Tetap
Domestik Bruto (Investment Expenditure)
Pembentukan modal tetap domestik bruto (PMTDB)
merupakan pengeluaran sektor dunia usaha. Pengeluaran ini dilakukan untuk
memelihara dan memperbaiki kemampuan menciptakan/meningkatkan nilai tambah.
Termasuk dalam PMTDB adalah perubahan stok, baik berupa barang jadi maupun
barang setengah jadi. Untuk mengetahui berapa potensi produksi, akan lebih
akurat bila dihitung adalah investasi neto (net
investment), yaitu investasi bruto dikurangi penyusutan. Penghitungan PMTDB
ini menunjukkan bahwa pendekatan pengeluaran, lebih mempertimbangkan
barang-barang modal yang baru (newly
capital goods). Barang-barang modal tersebut merupakan output baru, karena
itu harus dimasukkan dalam penghitungan PDB.
4)
Ekspor Neto (Net Export)
Yang dimaksud dengan ekspor bersih adalah selisih
antara nilai ekspor dengan impor. Ekspor neto yang positif menunjukkan bahwa
ekspor lebih besar daripada impor. Begitu juga sebaliknya. Perhitungan ekspor
neto dilakukan bila perekonomian melakukan transaksi dengan perekonomian lain
(dunia).
Nilai PDB berdasarkan metode pengeluaran adalah nilai total lima jenis
pengeluaran tersebut:
PDB = C+G+I+(X-M)
.........................................................................................
(2.5)
di mana:
C
= konsumsi rumah tangga
G
= konsumsi pemerintah
I
= PMTDB
X
= Ekspor
M
= Impor
Tabel 2.4 dibawah ini adalah data
pendapatan nasional indonesia tahun 1996 berdasarkan struktur pengeluarannya.
Dari data tersebut terlihat bahwa porsi pengeluaran terbesar adalah untuk
konsumsi rumah tangga. Porsi pengeluaran lain yang relatif besar adalah
PMTDB. Data ekspor bersih menunjukkan
bahwa perekonomian indonesia merupakan perekonomian ternuka, yang melakukan
transaksi ekspor-impor dengan perekonomian dunia (global).
Tabel 2.4
Produk Domestik Bruto Indonesia 1996
(Harga Berlaku) Menurut Pengeluaran
(Dalam Miliar Rupiah)
|
1. Konsumsi Rumah
Tangga (Privat Consumption)
2. Konsumsi Pemerintah
(Government Consumption)
3. Pembentukan Modal Tetap
Domestik Bruto (Gross capital Formation)
4. Ekspor Barang dan
Jasa (Export of Goods & Services)
5. Impor Barang dan
Jasa (Import of Goods & Services)
|
308.469
40.695
172.777
138.675
-131.660
|
|
Total PDB (GDB)
|
528.956
|
Catatan: Ekspor Bersih (Net Export) = Ekspor-Impor
= 7.015, angka positif menunjukkan ekspor barang dan jasa tahun 1996 lebih
besar Rp 7.015 miliar daripada impor barang dan jasa.
Sumber: 1)
International Financial Statistics (IMF), 1997.
2) badan
Pusat Statistik.[3]
C.
Keseimbangan Pendapatan Nasional
Dalam bukunya The General Theory, Keynes
menjelaskan faktor-faktor yang menentukan pendapatan nasional. Menurut kaum
klasik, pendapatan nasional akan selalu dalam keadaan full employment di mana
keinginan masyarakat untuk menabung sama dengan keinginan perusahaan untuk
melakukan investasi (dalam arti ex ante). Dalam kenyataannya (ex post) tabungan
selalu sama dengan investasi. Namun ex post tabungan sama dengan investasi
bukanlah merupakan syarat adanya keseimbangan dalam pendapatan nasional yang selalu
dalam keadaan full employment. Keynes menambah keadaan ini dan menyatakan bahwa
pendapatan nasional yang seimbang dapat
terjadi pada keadaan kurang dari full employment.
Perbedaan pendapat ini secara sederhana dapat
dijelaskan dengan contoh sebagai berikut: Misalnya, sektor perusahaan
menghasilkan output sebesar Rp1.000 juta (Y) dalam keadaan full employment dan
mengharapkan dapat menjual Rp800 juta kepada sektor rumah tangga (C) dan ingin
menggunakan sisanya yang sebesar Rp200 juta untuk investasi (persediaan
termasuk dalam pengertian investasi). Mereka akan tetap menghasilkan sejumlah
itu sepanjang keinginan untuk menjual terealisir. Jika konsumen (Rumah Tangga) merencanakan
membeli sebesar Rp800 juta (dengan demikian keinginan untuk menabung sebesar
Rp200 juta) maka apa yang diinginkan oleh sektor perusahaan persis sama dengan
yang diinginkan oleh konsumen. Tetapi, apabila konsumen memutuskan hanya akan membelanjakan sebesar Rp700 juta
(berarti keinginan menabung sebesar Rp300 juta) maka keinginan pihak kedua
tidak sama. Apa yang terjadi? Di sinilah (dalam menjawab pertanyaan tersebut)
letak perbedaan antara kaum klasik dan keynes.
Dalam kasus di atas,sektor perusahaan akan
mengalami tambahan persediaan yang tidak dikehendaki (unintented inventory) sebesar
Rp100 juta. Total persediaan (kenyataan) menjadi sebesar Rp300 juta (dalam man
yang sebesar Rp100 juta tak dikehendaki) sama dengan total tabungan Rp300 juta
(semuanya diinginkan konsumen). Dalam hal ini keinginan menabung konsumen
(Rp300 juta) lebih besar daripada keinginan investasi sektor perusahaan (Rp200
juta).
Menurut klasik, akibat dari keadaan ini (keinginan
menabung lebih besar daripada
keinginan investasi) akan terjadi perubahan harga. Karena sektor perusahaan
tidak bisa menjual output yang direncanakan (adanya persediaan yang tak
diinginkan sebesar Rp100 juta), maka mereka akan menurunkan harga outputnya
sampai semua persediaan yang tak diinginkan tersebut terjual habis, buruh akan
menurunkan tuntutan upahnya (daripada menganggur), dan tingkat bunga akan turun
karena keinginan menabung lebih besar daripada keinginan investasi. Turunnya
tingkat bunga ini akan menurunkan keinginan menabung (dus menambah keinginan
untuk membeli barang) dan mendorong untuk melakukan investasi sampai keinginan
menabung kembali sama dengan keinginan investasi dan sektor perusahaan kembali
pada produksi full employment.
Keynes mengajukan penyelesaian yang berbeda. Harga
barang relatif tetap dan mungkin tidak turun meskipun terdapat kelebihan
persediaan barang. Demikian pula upah, sangat sukar untuk turun, mungkin karena
adanya tantangan dari serikat buruh, dan yang lebih penting lagi, bahwa tingkat
bunga tidaklah dapat menyamakan tabungan dengan investasi. Tingkat bunga
ditentukan di dalam pasar uang, yang membuat permintaan akan uang sama dengan
penawarannya. Secara terperinci hal ini akan dijelaskan pada subbab berikut.
Menurut Keynes, apabila sektor perusahaan
mengalami tambahan persediaan yang tidak diinginkan, pengusaha akan
memperkecil/mengurangi produksi. Output akan turun selama keinginan menabung
lebih besar dari pada keinginan untuk
investasi (dus, ada persediaan yang tidak diinginkan). Proses turunnya output
itu akan terus berlangsung sampai keinginan menabung sama dengan keinginan
investasi, dalam mana pendapatan nasional keseimbangan yang baru lebih rendah
dari semula. Berapa besarnya penurunan pendapatan nasional sebagai akibat
keinginan menabung lebih besar daripada keinginan investasi? Untuk melihat hal
ini keynes menciptakan fungsi konsumsi (dilihat dari segi lain juga merupakan
fungsi tabungan). [4]
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan
olehsuatu negara dapat dilihat dari 2 fihak: fihak pembeli, konsumen dan fihak
penjual, produsen. Dari fihak pembeli pendapatan uang yang diterimanya
dikeluarkan kembali untuk membeli barang-barang dan jasa-jasa.
Ada tiga cara penghitungan pendapatan nasional,
yaitu metode output (output approach), metode pendapatan (income approach), metode pengeluaran (expenditure approach).
Dalam bukunya The General Theory, Keynes
menjelaskan faktor-faktor yang menentukan pendapatan nasional. Menurut kaum
klasik, pendapatan nasional akan selalu dalam keadaan full employment di mana
keinginan masyarakat untuk menabung sama dengan keinginan perusahaan untuk
melakukan investasi (dalam arti ex ante). Dalam kenyataannya (ex post) tabungan
selalu sama dengan investasi.
DAFTAR PUSTAKA
Soediyono Reksoprayitno, 2000, Pengantar Ekonomi Makro, Yogyakarta:
BPFE-YOGYAKARTA
Prathama Rahardja, 2005, Teori Ekonomi Makro,Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia
Nopirin, 1994, Pengantar Ilmu ekonomi Makro &
Mikro, Yogyakarta: : BPFE-YOGYAKARTA
Ace Partadiredja, 1985, Pengantar Ekonomika, Yogyakarta:
: BPFE-YOGYAKARTA
[1] Soediyono Reksoprayitno, 2000, Pengantar Ekonomi Makro,
BPFE-YOGYAKARTA, hlm. 15.
[2] Prathama
Rahardja, 2005, Teori Ekonomi Makro,Jakarta:
Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia 16-22
[3] Nopirin,
1994, Pengantar Ilmu ekonomi Makro & Mikro, Yogyakarta: : BPFE-YOGYAKARTA
79-81
[4] Ace
Partadiredja, 1985, Pengantar Ekonomika, Yogyakarta: : BPFE-YOGYAKARTA 59-68







The Magic: The Gathering Commander 2019 Review - JtmHub
BalasHapusThe 충청남도 출장안마 Commander 2019 - Commander 2019 is an extremely interesting set piece from the Magic Origins cycle series, 하남 출장안마 which 제주 출장안마 is 남원 출장샵 the core mechanic, 구미 출장안마 as well as